If I Want, I Can!

Kunjungan ke Candi Prambanan

Pada tanggal 16 Desember 2011, saya dan rombongan KKL Mahasiswa FKIP Matematika UNMAS Denpasar tiba di Daerah Istimewa Yogyakarta tepatnya di Candi Prambanan.

Candi Prambanan adalah bangunan luar biasa cantik yang dibangun di abad ke-10 pada masa pemerintahan dua raja, Rakai Pikatan dan Rakai Balitung. Menjulang setinggi 47 meter (5 meter lebih tinggi dari Candi Borobudur), berdirinya candi ini telah memenuhi keinginan pembuatnya, menunjukkan kejayaan Hindu di tanah Jawa. Candi ini terletak 17 kilometer dari pusat kota Yogyakarta, di tengah area yang kini dibangun taman indah.

Candi Prambanan memiliki 3 candi utama di halaman utama, yaitu Candi Wisnu, Brahma, dan Siwa. Ketiga candi tersebut adalah lambang Trimurti dalam kepercayaan Hindu. Ketiga candi itu menghadap ke timur. Setiap candi utama memiliki satu candi pendamping yang menghadap ke barat, yaitu Nandini untuk Siwa, Angsa untuk Brahma, dan Garuda untuk Wisnu. Selain itu, masih terdapat 2 candi apit, 4 candi kelir, dan 4 candi sudut. Sementara, halaman kedua memiliki 224 candi.

Di Candi Wisnu yang terletak di sebelah utara candi Siwa, anda hanya akan menjumpai satu ruangan yang berisi arca Wisnu. Demikian juga Candi Brahma yang terletak di sebelah selatan Candi Siwa, anda juga hanya akan menemukan satu ruangan berisi arca Brahma.

Candi pendamping yang cukup memikat adalah Candi Garuda yang terletak di dekat Candi Wisnu. Candi ini menyimpan kisah tentang sosok manusia setengah burung yang bernama Garuda. Garuda merupakan burung mistik dalam mitologi Hindu yang bertubuh emas, berwajah putih, bersayap merah, berparuh dan bersayap mirip elang. Diperkirakan, sosok itu adalah adaptasi Hindu atas sosok Bennu (berarti ‘terbit’ atau ‘bersinar’, biasa diasosiasikan dengan Dewa Re) dalam mitologi Mesir Kuno atau Phoenix dalam mitologi Yunani Kuno. Garuda bisa menyelamatkan ibunya dari kutukan Aruna (kakak Garuda yang terlahir cacat) dengan mencuri Tirta Amerta (air suci para dewa).

Prambanan juga memiliki relief candi yang memuat kisah Ramayana. Menurut para ahli, relief itu mirip dengan cerita Ramayana yang diturunkan lewat tradisi lisan. Relief lain yang menarik adalah pohon Kalpataru yang dalam agama Hindu dianggap sebagai pohon kehidupan, kelestarian dan keserasian lingkungan. Di Prambanan, relief pohon Kalpataru digambarkan tengah mengapit singa. Keberadaan pohon ini membuat para ahli menganggap bahwa masyarakat abad ke-9 memiliki kearifan dalam mengelola lingkungannya.

Pembuatan candi Prambanan memiliki hubungan dengan konsep Matematika, yaitu dikenal dengan Iaktan Terapan. Di candi Prambanan terdapan ribuan stupa dan batu pondasi yang banyak berserakan. Dari hal tersebut dapat di hubungkan antara lubang yang berada pada satu batu tersebut, dengan batu yang lebih menonjol sedikit di atas permukaannya.
Dimana hubungan antara lobang yang ada di batu yang menonjol ternyata sangat berkaitan, karena tonjolan di atas batu itu, dikaitkan dengan lobang yang ada pada batu lainnya, sehingga dua batu tersebut bisa berkaitan dengan kuat. Konsep ini persis seperti konsep permainan lego,yang sering dimainkan anak-anak ketika ingin membuat bangunan rumah, hotel atau perkantoran lainnya.

Cara menghubungkan komponen satu dengan yang lain secara “lego” disebut Iaktan Terapan, dimulai dengan cara hubungan “ PELETAKAN “, kemudian berkembang menjadi “ Saling Menggigit, Proses pemasangan dimungkinkan tanpa adanya pendukung / penunjang pembantu seperti semen

Dari pengamatan singkat ini, bisa kita lihat adanya konsep matematika yang dipergunakan oleh Wangs Syailendra dalam pembuatan candi Prambanan ini, konsep itu adalah konsep ‘kesebagunan’ pada lubang yang dibuat pada satu batu, dengan tonjolan batu yang lainnya sehingga mereka bisa saling kait mengait.

Lubang pada batu tersebut, tentunya sama dan sebangun dengan tonjolan pada batu lainnya, sehingga kedua batu tersebut bisa terikat, dan kebanyakan bentuk yang ada adalah berbentuk persegi panjang, barangkali bentuk ini bentuk yang mudah untuk dijadikan pondasi.

Dari keterkaitan inilah kemudian, bangunan bisa didirikan, dan konsep ini juga digunakan pada pembangunan tangga-tangga candi, sehingga sampai saat ini tangga candi tidak bergeser, padahal sudah berusiah ratusan tahun.

Dari pembahasan tersebut, bisa ditarik kesimpulan pada masa itu mereka sudah mengenal konsep kesebangunan dalam pembangunan candi, dan ini bisa dikatakan bangsa Indonesia juga memiliki matematika kuno, namun sayangnya tidak ada yang mendokumentasi hal tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: